Virus H5N1 clade 2.3.2 ditemukan di Indonesia, mematikan ratusan ribu itik. Secara filogenetik dekat dengan virus AI di Hongkong dan Vietnam. Dipastikan bukan hasil mutasi, tetapi introduksi dari luar oleh burung migran atau perdagangan unggas
Pasca berkoordinasi dengan Direktorat Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjennak Keswan), Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia (Himpuli) melakukan inventarisasi kejadian kasus kematian itik akibat infeksi AI (Avian Influenza) yang menggemparkan di akhir 2012 itu.
Hari berikutnya (4/12), Himpuli merilis data kematian itik dari anggotanya di 3 provinsi: Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Angkanya spektakuler. Terhitung 14 November sampai 3 Desember 2012, tercatat 320 ribu ekor itik tewas akibat disatroni virus AI atau flu burung ini.
Menjadi berita menghenyakkan, karena sebelumnya itik dikenal sebatas sebagai carrier (inang pembawa) atau reservoir virus H5N1. Artinya, virus penyebab AI ini berkembang dalam tubuh itik dan disebarkan ke lingkungan tetapi itik tak menunjukkan gejala sakit apalagi mati. Tetapi kini unggas air ini tak sanggup bertahan dan bergelimpangan dihajar ganasnya virus yang banyak ulah ini.
Berita baiknya, kepada Trobos Livestock Ketua Himpuli Ade Zulkarnain menginformasikan, sejak pekan ke-2 Desember 2012 tingkat kematian itik di anggota Himpuli sudah mereda. ”Karena pihak dinas di daerah sudah melakukan berbagai upaya penanggulangan,” jelas Ade.
Lain data Himpuli, lain pula data versi Direktorat Kesehatan Hewan. Direktorat ini merilis data kematian itik sejak September 2012 hingga 27 Desember 2012, terhitung 152.871 ekor. Data ini diperoleh dari 10 provinsi (Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Jogjakarta, Jawa Barat, Banten, Lampung, Riau, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, dan Bali) yang dikumpulkan dari 51 kabupaten/kota (lihat tabel). Sebagian besar kasus terjadi pada peternakan itik komersial skala kecil.
Sementara, dalam sebuah konferensi pers di UGM Jogjakarta (26/12) yang pernyataannya dimuat berbagai media nasional, Kepala Seksi Informasi Veteriner dari Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates, Jogjakarta Putut Djoko Purnomo mengatakan, pihaknya menerima laporan kematian itik secara mendadak di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan DI Jogjakarta mencapai 113.700 ekor dalam 4 bulan terakhir.
Virus AI Clade Baru
Ahli virologi yang juga Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Widya Asmara yang turut dalam konferensi pers di UGM menyatakan, diduga sebagian besar kematian itik-itik ini disebabkan oleh virus AI subtipe H5N1 clade 2.3.2.1. Ditemukannya virusclade 2.3 ini menunjukkan adanya kelompok baru virus AI di Indonesia, karena yang sebelumnya beredar di tanah air dimasukkan dalam clade 2.1.





